Jumat, 27 Januari 2017

Beberapa Contoh Kebiasaan Yang Masih Keliru Soal Makan

Tahukah anda bahwa ternyata hingga sekarang ini masih saja ada orang tetap melakukan kebiasaan yang keliru soal makan dalam kehidupan sehari-harinya? Berikut ini adalah beberapa contoh mengenai kebiasaan yang keliru soal makan:

Makanan Janin Dalam Kandungan
Salah satu kebiasaan keliru yang dilakukan oleh ibu hamil adalah menghidari makanan yang justru dibutuhkan oleh janin yang dikandungnya. Tidak jarang kita melihat ibu hamil yang hanya makan sayur, tidak makan sambal dan es, tidak makan yang amis (protein). Akibatnya, pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat, banyak bayi yang lahir cacat, berat dan panjang tubuh bayi kurang, serta biasanya kecerdasan bayi pun rendah.

Ternyata hingga sekarang masih saja ada orang melakukan kebiasaan yang keliru soal makan dalam kehidupan sehari-harinya.

Air Susu Ibu (ASI) yang keluar pada hari pertama disebut Kolostrum. Kolostrum ini berbeda dengan ASI biasa baik dari warna mau pun rasanya. Kolostrum memiliki warna yang agak kuning dan memiliki rasa yang sepet (tidak manis). Kadang-kadang ada ibu yang menganggap kolostrum tersebut adalah ASI basi sehingga harus dibuang dulu. Setelah kolostrum terbuang habis dan yang tinggal ASI biasa yang rasanya manis, barulah diberikan kepada bayinya. Padahal kolostrum tersebut sangat diperlukan oleh bayi karena bermanfaat untuk kecerdasan, kekebalan tubuh, serta pertumbuhannya. Akibatnya, bayi menjadi kurang cerdas, mudah sakit, serta memiliki tubuh yang kecil.

Makanan bayi usia 6 bulan kebawah
Ibu yang tidak melakukan perawatan payudara semasa hamil kadang-kadang ASInya sedikit atau malah habis. Maka bayi pun diberi makan nasi dicampur pisang yang dihaluskan, atau diberi minum tajin. Akibatnya hanya otot-otot bayi yang mengalami pertumbuhan, namun otaknya tidak. Bayi akan kelihatan gemuk dan lucu, tapi kecerdasannya tidak berkembang.

Bayi yang berusia 6 bulan kebawah seharusnya diberi ASI saja (ASI Ekslusif). Tidak boleh diberi makanan tambahan apapun karena ASI adalah makanan yang terbaik. Supaya kualitas maupun kuantitas ASInya bagus, ibu harus banyak makan protein dan sayur mayur serta buah-buahan.

Makanan bayi usia 6 hingga 12 bulan
Setelah enam bulan, bayi sudah bisa diberi makanan tambahan. Kebiasaan yang keliru pada usia ini adalah ibu tidak makan yang amis-amis karena takut bayinya muntah / mencret akibat ASI yang amis. Sehingga ibu hanya makan sayur dan buah agar ASInya segar. Akibatnya ASI ibu pun kurang bermutu (rendah protein). Kebiasaan keliru lainnya adalah bayi tidak diberi makan telur karena takut bayinya bisulan. Bayi tidak diberi makan ikan karena takut bayinya cacingan, eksim, atau gatal-gatal. Padahal, telur dan ikan adalah merupakan sumber protein yang sangat bermanfaat untuk pertumbuhan, kekebalan tubuh, serta kecerdasan bayi.

Seharusnya pada usia ini selain ASI, bayi juga diberi makanan tambahan jus buah, telur setengah matang, tim ikan, bubur saring atau nasi yang didalamnya diisi protein, lemak, serta vitamin dan mineral. Sedangkan untuk ibu agar tetap sehat dengan ASI yang prima, konsumsilah makanan dengan gizi yang seimbang, tinggi kalori, tinggi protein, juga tinggi vitamin dan mineral. Semua ibu bisa dapatkan melalui ikan, daging, telur, tempe, tahu, kacang, mentega, keju, minyak, sayur, dan buah.

Makanan anak usia 1 hingga 5 tahun
Kebiasaan yang keliru pada usia ini adalah ibu sudah berhenti menyusui anaknya. Padahal bayi hingga usia 2 tahun masih memerlukan ASI. Ibu harusnya tetap memiliki ASI yang prima dengan cara banyak makan protein selain sayur dan buah. Anak diberi makan makanan yang mengandung tinggi protein dan tinggi lemak, selain sayur dan buah. Pada usia ini anak telah memasiki periode emas karena hanya pada periode ini otak bisa tumbuh. Setelah 5 tahun, otak sudah tidak tumbuh lagi. Boleh dikatakan bahwa kecemerlangan masa depan manusia ditentukan dalam periode ini. Konsumsi protein yang optimal akan mendatangkan pertumbuhan otak (kecerdasan) yang optimal pula. Kekurangan konsumsi protein akan membuat anak tumbuh kecil-pendek, mudah terserang penyakit, serta kurang cerdas.

Dengan dalih untuk mendidik hidup sederhana dan bersahaja, anak dibiasakan hidup prihatin dengan makan makanan yang sederhana. Memantang makan ikan, telur, atau daging karena dianggap mewah (bersenang-senang). Walaupun mampu membeli protein, anak dengan sengaja diberi makan seadanya. Anak pada tahap ini berada dalam masa pertumbuhan, dimana dibutuhkan makanan yang mengandung protein tinggi, selain karbohidrat dan lemak (untuk sumber tenaga), serta sayur dan buah (untuk metabolisme/kesehatan). Mendidik anak untuk hidup sederhana jangan mengurangi kualitas dan jumlah makanan yang seharusnya mereka konsumsi.

Makanan untuk Lanjut Usia (Lansia)
Kebiasaan yang keliru pada usia ini adalah para lansia gemar makan makanan yang gurih, lezat, dan nikmat. Padahal jenis makanan tersebut biasanya mengandung tinggi lemak, tinggi protein, tinggi garam, tinggi gula penyedap, pemanis, serta pengawet dan pewarna kimia. Akibatnya banyak lansia yang akrab dengan penyakit-penyakit berbahaya. Lemak, minyak, protein, dan garam bisa menjadi penyebab naiknya tekanan darah, asam urat, dan kolesterol. Bahkan bisa menyebabkan stroke dan serangan jantung koroner. Makanan yang manis-manis bisa memicu dan memperparah penyakit gula. Zat kimia dapat mempercepat degenerasi dan merangsang terjadinya kanker.

Pada fase lanjut usia kebutuhan energi untuk bergerak menurun, serta energi atau kalori untuk pertumbuhan juga sudah tidak ada. Proses alami yang berlangsung adalah degenerasi. Fungsi sel maupun organ-organ tubuh lainnya mengalami penurunan karena proses penuaan (alami). Usaha yang dibutuhkan adalah memperlambat proses degenerasi, juga menjaga agar kondisi sel dan organ tubuh terawat dengan baik. Lakukan olahraga ringan sesuai kondisi. Sebaiknya memilih makanan yang rendah kalori, rendah lemak, serta rendah protein. Makan nasi secukupnya, kurangi mengonsumsi lemak dan protein, serta perbanyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan.

Share this article to your friends :

0 komentar:

Poskan Komentar